BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Senin, 21 Maret 2011

Belajar Pengelolaan Sampah dari Bank Sampah Gemah Ripah

Ketika bicara soal sampah, hal yang terbayang oleh kita adalah bau tak sedap, karena berasal dari sisa-sisa makanan, sisa pengolahan dapur, daun-daun, kertas, plastik, kaleng, botol dll, yang seringkali membuat lingkungan menjadi kotor dan kumuh. Sampah juga sering dianggap tidak ada gunanya, maka dibuang, yang akhirnya menimbulkan masalah tersendiri karena tempat penampungan yang ada tidak sebanding dengan banyaknya sampah yang ada saat ini.
Anggapan sampah tidak berguna ini ternyata keliru, hal ini diketahui setelah membaca berita tentang Bank Sampah, yang gagas oleh Bambang Suwerda seorang dosen di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan di Yogyakarta, yang mendirikan Bank Sampah Gemah Ripah di dusun Bandegan, Bantul, Yogyakarta. Bambang mencoba mengadopsi konsep bank konvensional pada bank sampah, jadi terpikir bagaimana mengelola sampah seperti mengelola uang di bank.
Bank sampah dimulai dengan mengajak masyarakat untuk memilah sampah menjadi 3 kantong yang berbeda yaitu kantong pertama berisi kantong sampah plastik, kantong kedua sampah kertas dan kantong ketiga berisi sampah kaleng dan botol. Masyarakat yang menjadi peserta bank sampah disebut nasabah. Para nasabah ini menyerahkan kantong sampah kepada petugas yang di ibaratkan sebagai teller bank. Petugas bank menimbang dan melabeli kantong sampah itu. Nasabah kemudian mendapatkan bukti setor dari tabungan sampah yang diserahkannya dan dicatat berat sampah di buku tabungan. Bukti setoran itu menjadi dasar penghitungan nilai rupiah sampah.
Setelah sampah terkumpul cukup banyak, petugas bank sampah akan menghubungi pengumpul barang bekas, merekalah yang akan menghitung nilai ekonomis setiap kantong sampah milik nasabah. Catatan nilai rupiah itu lalu dicocokkan dengan bukti setoran, baru kemudian dibukukan.
Harga sampah dari nasabah bervariasi tergantung klasifikasinya misal kertas karton dihargai Rp 2.000 per kg dan kertas arsip Rp 1.500 per kg, sedangkan sampah plastik, botol, dan kaleng harganya disesuaikan ukuran.
Awal mula mengajak masyarakat untuk mengumpulkan dan memilah sampah untuk ditabung, Pak Bambang mendapatkan respon yang tidak terlalu bagus dari masyarakat, karena masih banyak warga yang bingung terhadap konsep tersebut. Namun seiring berjalannya waktu masyarakat akhirnya bisa menerimanya.
Dalam bank sampah gemah Ripah ini, setiap nasabah memiliki karung ukuran besar yang di tempatkan di bank untuk menyimpan sampah yang ditabung. Setiap karung diberi nama dan nomor rekening masing-masing nasabah. Karung-karung sampah itu tersimpan di gudang bank yang terletak tak jauh dari rumah Pak Bambang.
Bank sampah memotong 15 persen dari nilai sampah yang disetor nasabah. Sedangkan sampah kelompok dipotong 30 persen. Dana tersebut digunakan untuk biaya operasional bank sampah.
Berbeda dengan bank biasa yang bisa mengambil dana setiap saat, nasabah bank sampah hanya bisa menarik dana setiap tiga bulan sekali. Tujuannya agar dana yang terkumpul lebih banyak sehingga uang tersebut bisa dimanfaatkan sebagai modal kerja atau keperluan yang bersifat produktif. Selain itu ketentuan tersebut juga mengajak agar masyarakat tidak menjadi konsumtif.
Tidak semua sampah yang di tabung nasabah disetorkan ke pengumpul barang bekas. Sebagian diantaranya, seperti sampah plastik bekas pembungkus makanan dan gabus diolah sendiri oleh bank sampah menjadi aneka produk seperti tas, dompet, dan rompi.
Bank sampah memang sebuah gagasan yang cemerlang, sebagai salah satu alternatif penyelesaian masalah sampah. Bank sampah bisa membuat kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah dengan berubahnya cara pandang tentang sampah yang semula sebagai barang yang tidak berguna tetapi ternyata bila dikelola dengan benar dan bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis. Seperti motto bank sampah Gemah Ripah ‘Menabung sampah, hidup lebih bersih dan hari esok lebih baik’.
Bank sampah Gemah Ripah sudah di terapkan di 20 desa di Bantul, Yogyakarta. Di daerah lain konsep bank sampah ini mungkin juga bisa dikembangkan. Bagaimana dengan ibukota negara kita yaitu Jakarta apakah Bank Sampah ini bisa dikembangkan?
Jakarta sebagai tempat dimana berkumpulnya penduduk dari berbagai daerah dan pusat perdagangan, dengan kesibukkan orang-orang didalamnya, untuk menerapkan bank sampah memang perlu usaha yang lebih dalam mensosialiasasikannya. Cara pandang kaum urban yang serba simple dan praktis untuk bisa terlibat dalam bank sampah, perlu pendekatan yang lebih konkrit dengan disertai aksi langsung dengan melihat bagaimana kerja bank sampah.
Hal ini dimungkinkan bila dimulai dari lingkungan dimana kita tinggal yang kemudian bisa meluas lagi ditingkatan sosial masyarakat yang lebih tinggi. Kesadaran masyarakat akan lingkungan yang bersih dan sehat menjadi penentu dalam penerapan bank sampah di Jakarta.
Pendapat pro dan kontra pasti terjadi di masyarakat tentang bank sampah. Keengganan masyarakat di kota dengan sampah karena mereka tidak mau direpotkan dengan cara bank sampah untuk pengumpulan dan pemilahan sampah. Ada yang berpendapat untuk tujuan jangka panjang, ide pembentukkan Bank Sampah jelas bertentangan dengan paham hidup yang berkelanjutan. Setiap sisa produk yang dikonsumsi harus mudah dipakai kembali sehingga produksi sampah rumah tangga bisa diminimalisir.
Bank sampah bisa diterapkan di Bantul tetapi belum tentu bisa diterapkan di daerah lain, tetapi paling tidak bank sampah ini perlu dicoba sebagai alternatif mengajak masyarakat peduli dengan sampah.
sumber;kalyanamitra.or.id/Nani Ekawati

Sumber bacaan:
* Kompas: Sosok “Bambang Suwerda Bank Sampah Gemah Ripah”, tgl 3 November 2010
* DW – WORLD.DE; DEUTSCHE WELLE “Bank sampah, Mengubah Pandangan tentang Sampah”, tgl 2 Maret 2010
* DetikHEALTH, “Sampah Hilang, Uang Datang di Bank Sampah”, tgl 4 November 2010
* Green, Maria Harayanto, “Bank Sampah, Paradima Salah Kaprah”, 30 Juli 2010

0 komentar: